[chapter 4] Adore You -Jungkook ver.

Judul       : Adore You

Genre      : Teen-Lit, Romance

Length     : Chapter 04

Author     : saya




Jung Mi  berdiri menerawang kegiatan di kompleks rumah dari atas balkon kamarnya. Tiupan udara malam membuatnya bergidik dan memutuskan masuk ke kamar dengan langkah terseok-seok dan duduk di sisi tempat tidur dan segera merebahkan diri di kasur. Dibiarkannya rambut basahnya tergerai di sprei.

HUHH

Dihelanya nafasnya kuat-kuat. Mengedarkan pandangannya pada tas punggungnya yang tergantung di dekat meja belajar lantas menuju sang tas dan merogoh kantung kecil guna mendapatkan yang hendak dicari.

Ditelusurinya kontak nama Sehun di HP nya, entah masih ada atau tidak. Ternyata...

Dengan cekatan diketiknya tombol-tombol qwerty pada Blackberrynya dan muncul peringatan ‘Pesan terkirim.’ Tak lama kemudian ponselnya bergetar tanda ada pesan masuk. Dan...

from : Sehun

‘Iya, sama-sama. Lain kali hati-hati. Luka kamu udh gimana, Dek?’

secepat kilat ia berusaha menekan tombol-tombol demi membalas pesan.

to : Sehun

‘Udah enggak berdenyut lagi kok.’

from : Sehun

‘Kamu ada acara, gak jumat lusa? Temenin aku ke museum untuk obeservasi sejarah, boleh?’

Jung Mi tersenyum. Dipikirkannya kegiatannya hingga jumat lusa, tiba-tiba Hpnya bergetar lagi, menandakan ada SMS masuk. Jung Mi melirik mata si pengirim, lantas terkaget setengah mati. Matanya berkedip beberapa kali, kebiasaannya ketika sedang bingung atau gugup.

‘Nomorku kok bisa sama dia, ya? Kan aku yang minta nomor dia... dia kok bisa ngehubungi ya?'

Tertegun sejenak, Jung Mi langsung memeriksa panggilan teleponnya, dan benar saja. Ketika Jong Kook memegang Hpnya, Jong Kook sempat memisscall nomornya menggunakan HP Jung Mi. Makanya Jong Kook bisa tahu nomor Jung Mi.

Jung Mi langsung cemberut. Tak berselera membuka pesan yang dikirim Jong Kook, dan tiba-tiba Hpnya bergetar lagi, dengan nama pengirim yang sama.

“Ih! Nih anak nyebelin banget, sih!” dengan terpaksa Jung Mi membuka pesan dari Jong Kook.

from : A good-looking Kook

‘Kenapa lu? Diapain aja lu?’

‘Balas woy! gak ada pulsa lu?’

Demikian isi pesannya. Jung Mi membulatkan matanya kesal. Secepat mungkin dibalasnya pesan itu.

to : A good-looking Kook

‘Kamu kok nyolot, sih? Iya tenang aja. Kemeja kamu bakal balik,kok.’


from : A good-looking Kook

‘Gua nanya apa, elu jawab apa. Kan gua nanya, elu kenapa bego!?’

Jung Mi terdiam. Mengapa Jong Kook menanyakan hal itu? Jung Mi mulai berhati-hati membalas pesan, takut salah bicara.

to : A good-looking Kook

‘Gwenchana. Kenapa kamu nanya-nanya?’

Tak lama, muncul notif pesan baru, dari Sehun dan disusul dari Jong Kook. Pertama dibukanya pesan dari Sehun.

from : Sehun
‘Kamu sibuk banget ya, Dek? Boleh enggak?'

Jung Mi bingung dengan maksud pesan Sehun, segera dibukanya pesan terakhir Sehun.

“Ooh...” ucapnya panjang sambil tertawa. Sementara ia mengetik balasan pesan untuk Sehun, Hpnya kembali bergetar memunculkan notif pesan baru, dengan nama kontak pengirim ‘A good-looking Kook’.

JUNG MI POV
Risih banget lihat si Jong Kook. Kok bisa aku masih ketemu dan kenal sama dia? Keak sial banget gitu.

Oh iya, kemeja si Kook-shit! Bagus juga itu nama buatanku, wkwk..  Aku aja deh yang nyuci, enggak enak minta tolong sama Mbok Inun. Tinggal dikucek doang. Aku enggak perlu jongkok nyuciin nya.
JUNG MI POV END

_______________________

Radiasi cahaya sang surya memasuki ventilasi kamar Jung Mi. Derap langkah seseorang memasuki kamar cukup mengganggu, hingga orang tersebut menyibakkan tirai dan membuka pintu balkon kamar Jung Mi.

“Kamu masih enggak enak badan, sayang?" ucap eomma lembut, membuat Jung Mi duduk dan bersandar di sandaran kasurnya. Eomma meraih wajah Jung Mi lantas meletakkan telapak tangannya pada kening Jung Mi.
“Badan kamu masih lemas, suhu kamu juga naik. Kayaknya kamu demam,  sayang. Hari ini enggak usah sekolah dulu, istirahat aja. Biar besok eomma antar ke sekolah sekaligus buat pengaduan ke guru kamu,” jelas eomma tegas.

Jung Mi hanya mengangguk. Kemudian eomma mengecup keningnya. “Kok kamu bisa begini, sih nak? Salah apa, kamu sama mereka?” tanya eomma dengan mata berkaca, namun Jung Mi hanya tersenyum tipis menanggapinya. Eomma balik tersenyum kemudian pergi meninggalkan kamar Jung Mi.

Dihelanya nafas, sambil menenggelamkan pandangannya di dalam selimut. Luka di pelipis kirinya semakin perih. Lebih perih dari semalam. Diterawangnya seisi kamar berpatern pink hitam, dan ekor matanya berhenti di balkon, tertarik menuju gantungan hanger kemeja yang dijemurnya selama semalam di balkon. Persis seperti harum pewangi bajunya.

“Masih setengah kering. Biarin dulu, deh.”

Pintu kamar dibuka oleh seorang wanita paruh baya yang setengah membungkuk, namun tenaganya masih kuat, datang membawa nampan.

“Jung Mi-ssi, Makan dulu buburnya. Tadi Woo Hyun sudah beli di simpang komplek,” jelasnya lembut sambil meletakkan semangkuk bubur dan segelas air di atas nakas.

“Makasih, Mbok Nun,” Jung Mi berjalan tersengal-sengal menuju sisi tempat tidurnya.
“Mbok, kemeja yang di balkon tolong dikeringkan sama disetrika ya?”

Mbok Inun berjalan menuju balkon dan melepaskan kemeja sekolah itu dari hanger.
“Mbok keluar dulu ya. Nanti buburnya jangan lupa dimakan.”

Jung Mi bersandar di sandaran tempat tidurnya. Diliriknya weker menunjukan pukul 07.56. Diraihnya gelas dan menengguk ¼ isinya. Disuapkannya sesendok demi sendok bubur ayam sambil mencheck notif di Hpnya.

“HAH! 84 panggilan? 45 pesan? Nih anak mahkluk nokturnal ini,” Jung Mi menggaruk tengkuknya tak gatal.

‘Peduli amat ah! Lagian aku kayak begini karna dia’

______________________

Sudah jam 09.30 dan Jung Mi sudah selesai membersihkan tubuhnya. Sekarang dia duduk di meja makan menemani sang mama yang baru selesai makan sambil membaca novel teenlit yang 2hari lalu dipinjamnya dari perpustakaan kota.

“Pagi, Tante,” ucap sebuah suara yang semakin mendekat dari pintu masuk menuju meja makan.
“Pagi juga,” jawab mama. Ingin tahu siapa lawan biacara sang ibu, Jung Mi menoleh dan terbelalak.

‘Lihat siapa yang datang. Ngapain jugalah datang si bodoh ini? Tahu dari manalah coba?’

“Kamu teman Jung Mi, ya? Sini sarapan dulu,” ajak eomma ramah.
“Iya, tante. Nanti saya ambil,” jawab Jong Kook yang kini sudah berdiri di samping Jung Mi.

“Jung Mi, sapa temannya lah nak,” sampai eomma turun suara, Jung Mi belum bisa melepaskan pandangan kagetnya pada Jong Kook.

“Ini piring kotor ya, tante? Saya bantu bawa ke dapur, ya?” alih Jong Kook.
“Eh... enggak usah. Kamu...” eomma memiringkan kepalanya berusaha membaca nama yang tertera pada badge Jong Kook. "Eh.. Jong Kook-ssi. Ngobrol aja dulu sama Jung Mi. Ini piring kotor biar mama yang bawa,” eomma menoleh pada Jung Mi dan  memberi pandangan ‘jangan diam’ lantas meninggalkan keduanya.

“Modus! Bilang ke eomma kayak begitu, supaya eomma pergi kan?” Jung Mi menatap kesal pada Jong Kook. Jong Kook duduk disamping kanan Jung Mi dan mengambil sebuah apel dari keranjang buah lalu mengunyahnya. Tak mempedulikan pertanyaan belia itu.

“Kamu bolos ya?” Jong Kook menyeringai bangga.

“Jago kan gua, bisa cabut jam segini?” Jung Mi membuang pandangan kesal.

"Kemeja kamu udah kucuci. Bentar biar kuambil,” Jung Mi menggeser kaki kirinya keluar, supaya kaki kanannya bisa ikut keluar, namun Jong Kook menahannya.

“Elu enggak pengen nanya gitu, gua tahu rumah elu darimana? Atau ngapain gua ke rumah elu? Elu kok langsung skakmat tentang kemeja gua?” ekspresi Jong Kook berubah serius.

“...”

“Kalau gitu, gua yang nanya elu. Makin cantik aja elu karna lebam di tuh muka,” Jong Kook terkekeh paksa.

“...”

Namun Jung Mi tidak bereaksi. Hal ini membuat Jong Kook geram. “Elu marah sama gua?”

“...”

Mata Jong Kook menyipit begitu melihat Jung Mi tak menganggapi ocehannya. “Jadi elu marah? Gua sms, nelpon, elu enggak jawab. Kok jadi elu yang marah sih?”

“...”

Seketika wajah Jong Kook berubah pucat. Dialihkannya pandangannya menatap jendela yang menghadap ke taman. Jung Mi terdiam. Tak tahu mau berkata apa. Bagaimanapun juga, dia orang yang membuat Jung Mi begini.

‘Jong Kook itu punya gue!’ kata-kata itu tiba-tiba terngiang dia memorinya.

Jung Mi turun dari bangkunya. Dengan langkah terseok-seok, ia menuju ruang kecil dekat dapur yang merupakan ruangan kain. Keluarga Jung Mi menyebutnya ruangan kain, karena seluruh kain yang baru kering dan hendak dilipat dikumpulkan di situ. Begitu juga kain yang hendak disetrika.

Jong Kook masih dengan diam di duduknya. Sesekali mencuri pandang melihat Jung Mi berjalan pincang membuatnya tak tega.

“Mbok! Kemejaku tadi mana?” Jung Mi mencari kemeja Jong Kook ditumpukan kain yang sudah disetrika. “Itu, ada di...” “Dapet kok, Mbok,” Jung Mi memotong ucapan Mbok Inun setelah mendapat apa yang diinginkan.

Dengan perlahan, dia berusaha menemui Jong Kook di meja makan.

Iya, di meja makan.

Tapi tadi, ketika Jung Mi berteriak, Jong Kook sudah pergi.

Pergi. Diam-diam tanpa pamit.


“Dasar setan!” dijatuhkannya kasar kemeja putih itu. Masih dengan mood kesal, lantas menuju pintu masuk. Namun terlambat, Jong Kook sudah memacu kencang motornya. Jung Mi tidak bisa menahan amarahnya. Nafasnya berderu dan giginya menggertak.


Komentar

Postingan Populer