Bangun Akbar!
Di
situ dia rupanya. Tertidur dengan bahagia menikmati alam Tuhannya seakan tidak
punya kesibukan lain. Begitu tenang istirahatnya dan tak pun seorang berani
mengganggunya. Sungguh pulas ia.
“Akbar!
Akbar bangun, Bang! Enggak mikir kamu makan pakai apa? Sana mandi, Bang. Masa
kalah sama ayam buat cari makan?” Ibu menggoyang-goyangkan tubuh kurus Akbar
yang masih bersatu dengan kasur usangnya.
“Sebentar bu. Akbar masih hitung duit,” jawabnya masih dengan mata tertutup.
“Astagfirullah Akbar! Bangun dulu baru, kamu hitung uang! Mau jadi apa kamu hitung uang kok dimimpiin, Akbar! Akbar.. Akbar,” Ibu meninggalkan Akbar menuju dapur. Anak lelaki yang lulus SMA dari tahun lalu itu mulai duduk di sisi kasur reyotnya. Mengusap ekor mata kirinya dan menggaruk ujung kepalanya yang tidak gatal. Perlahan dilemparkannya pandangan menyusuri gudang yang disebutnya kamar kemudian berhenti ketika pandangannya tertuju pada jam weker berwarna merah dengan cat yang berkelupasan sebagai hiasan.
“Ibu, Akbar sudah kerja ya bu. Akbar kerja di toko nya Koh Aliong.” segera ia bergegas menuju bilik mandi.
.
Sungguh
bangga Akbar menyatakan berita bahwa ia, seorang alumnus SMA swasta dengan NEM pas-pasan
mendapat pekerjaan sebagai kuli panggul di toko sembako Koh Aliong. Bukan
karena gajinya yang lumayan, bukan juga karena iming-iming memandangi Imey,
putrinya Koh Aliong yang setahun di bawah Akbar. Namun karena, ia mendapat
pekerjaan setelah beberapa bulan menikmati masa penganggurannya setelah ujian
SBMPTN nya tidak lulus lagi. Bukannya malas, hanya saja nasib berkata lain
kalau tentang pendidikan untuk Akbar. Lulus dari SMA swasta yang cukup mahal
biaya SPP nya, bukan jadi tiket emas untuk masuk perguruan tinggi. Bahkan tidak
satupun ia lulus perguruan tinggi dalam jalur undangan. Dan ketika hendak
mencoba jalur SBMPTN, dua kali berturut-turut dia tidak juga lulus. Lha apa
daya? Mungkin sudah nasib orang miskin tak berkelakuan baik tak cocok untuk
universitas baik.
“Akbar!
Elu angat angkat beras pelan, lho. Tak pala semangat kali. Habis elu punya
tenaga.” Koh Aliong menghampiri Akbar yang sedang memindahkan karung berisi
beras ke dalam truk.
“Tak payah lha Koh. Supaya makan malam hari ini bisa makan mie,” Akbar bercanda
seakan memberikan kode kenaikan gaji.
“Elu sehari kerja udah minta gaji lebih. Sebulan dulu baru gaji naik 10% buat elu.”
“Enggak sampe sebulan, kenaikan gaji saya bisa sampe 30% lho Koh. Harus sedikan gaji tambahan Koh buat saya, soalnya tenaganya saya tidak akan gampang habis. Dibalik tubuh kurus ini tersimpan semangat juang!” Koh Aliong menggelengkan kepala sebagai jawaban kacau lelaki 20 tahun di depannya itu.
“Sudah kerja dulu elu. Banyak bicara terkuras tenaga.” Akbar tertawa kecil seraya melanjutkan kembali pekerjaannya. Satu persatu karung beras menghiasi muatan truk satu dan yang lain. Begitu berkobar semangatnya ia mengangkut berkarung-karung beras 20kg itu kemudian menyusunnya ke dalam truk untuk segera didistribusikan pada toko toko kecil di sekitarnya.
Tengah
harinya Akbar pulang ke rumah, guna mengisi perut dan tenaganya sejenak.
Kebetulan ibu terlihat baru dari warung, membawa cukup banyak belajaan untuk
membuat kue dan akan dijual keliling kampung. Dengan akal bulus dan usilnya,
Akbar bergerak halus berusaha merebut belanjaan ibu tanpa di ketahui.
Yes! Berhasil.
“Maling!!!”
Ibu berteriak manakala plastik kreseknya berpindah tangan kepada seorang lelaki
kurus yang tertawa di sampingnya.
“Dasar anak bandel! Sukanya bikin susah orangtua! Kerjanya cuma makan! Bikin onar!” Ibu memukul tubuh Akbar karena berhasil mengagetkannya. Akbar begitu menikmati pukulan kecil ibunya yang tidak begitu berdampak.
“Dasar anak bandel! Sukanya bikin susah orangtua! Kerjanya cuma makan! Bikin onar!” Ibu memukul tubuh Akbar karena berhasil mengagetkannya. Akbar begitu menikmati pukulan kecil ibunya yang tidak begitu berdampak.
“Hah! Iya, Ibu ampun! Lagipula Ibu bawa belanjaan di tangan kanan, kalau ada orang bawa motor, terus belanjaan ibu dibawa lari kan lebih parah. Udah, enggak usah marah lagi, sini Akbar yang bawain ya Ibu,” Akbar segera meraih juga plastik kresek berwarna biru dari gengaman kiri sang ibu.
“Bagaimana
kerjamu bang? Enggak bikin susah Koh Aliong kan, Bang?” Bang, panggilan Ibu
pada Akbar sejak kecil. Akbar menoleh memperhatikan gurat gelisah sang ibu,
lalu mengangguk mantap sebagai jawaban.
“Alhamdulilah, Akbar. Mulai beberapa bulan lalu, kita sudah menabung untuk biaya kamu kuliah. Enggak perlu kamu ambil negeri, swasta juga bagus kok, Bang. Enggak usah nunggu tahun depan lagi untuk ikut tes tapi hasil nya itu itu saja. Insya Allah, 2 bulan ke depan target menabung Ibu udah bisa untuk biaya kamu masuk universitas swasta ya, Bang ya. Supaya kamu bisa punya kegiatan, enggak susah lagi kerja di tempat Koh Aliong.” Ibu mengusap ujung rambut Akbar yang sudah panjang, karena tidak pernah dicukur.
“Akbar enggak susah kok bu, kerja di tempat Koh Aliong.” Akbar mengangkat wajahnya.
“Enggak baik Akbar, kamu kerja begituan. Kamu itu lulusan SMA Merdeka, harus kuliah! Enggak boleh kerja kayak begituan.” Ibu tetap bersikeras. Tak baik baginya seorang anak laki-laki tak berpendidikan tinggi.
“Kenapa enggak boleh bu? Pekerjaan Akbar kan bukan pekerjaan jahat. Bukan pekerjaan yang bertentangan dengan ajaran Allah. Baik pekerjaan Akbar bu.”
Ibu
tidak bersua. Tak bersemangat lagi dia apabila tidak sepaham dengan anak
bungsunya itu. Harapan almarhum suaminya seketika pupus ketika satupun dari
ke-2 anaknya tidak ada yang mau kuliah. Faktor biaya bukanlah masalah, Ibu
masih kuat berkeliling kampung menjajakan kue basah bagi langganannya setiap
pagi dan sore hari. Namun ini persoalan niat. Niat dan kemauan si anak.
“Ibu, Akbar mau kuliah, tapi tidak untuk sekarang. Akbar mau mengumpulkan modal dulu bu, Akbar mau buka usaha Doorsemer untuk sementara. Akbar mau menabung dulu untuk bikin usaha itu bu, lalu semisal uang Akbar cukup, Akbar bisa bayar uang administrasi kuliah nantinya bu.” Akbar meyakinkan sang permata denga penuh bujuk.
“Akbar janji bu, Akbar enggak bakalan bikin Ibu kecewa. Akbar sudah bikin target bu. Mimpi Akbar sudah Akbar rancang. Bantu Akbar mewujudkannya Ibu, bantu Akbar dengan doa.” Begitu mulia maksud dan tujuan anak yatim berbadan mungil itu. Bermimpi untuk keluar dari zona aman dan berusaha melampaui batas. Baiklah perbuatanmu Akbar, membawa pengaruh yang baik bagi sekitarmu.
.
Sore
harinya Akbar kembali ke toko Koh Aliong untuk menerima gaji. Koh Aliong sudah
menganggap Akbar seperti sanak saudara sendiri. Ketika ia mendengar bahwa Akbar
kembali gagal ujian SBMPTN, dia yang paling ribut menyemangati pria itu untuk
pantang menyerah. Mengingat kebaikan almarhum ayahandanya Akbar, begitu maksud
dari Koh Aliong.
Mereka
sesama kuli pulang. Satu persatu kawan Akbar berpulangan ke rumah masing-masing
tinggallah Akbar dan sahabat karibnya Bayu. Mengisi kejenuhan jarak dengan
canda tawa dilakoni kawan sesama pekerja
itu. Keduanya tersadar ada satu perkelahian saat mereka melewati jalan besar
yang agak sepi.
Sepasang muda-mudi yang sedang berkelahi. Sejujurnya keduanya
tidak ingin terlibat kecuali ketika Akbar menyadari siapa gadis yang saat itu
ditampar oleh pasangannya.
Tanpa
peringatan, Akbar melemparkan batu ke arah lelaki itu dan tepat mengenai
kepalanya. Darah segar mengucur dengan lancar dari ujung kepala pria itu. Tak
ingin berdarah sendiri, pria itu membalas, namun apa daya dia seorang diri.
Bayu melibatkan diri pada perkelahian singkat itu hingga akhirnya si pria
berjas tadi berlari tunggang langgang meninggalkan mereka.
Gadis
itu melenggang dengan anggunnya di hadapan Akbar. Membopong tas embel embel Chanel
dan kacamata hitam yang terbingkai sedikit melorot dari hidungnya yang
kecil. Membuat Akbar terpaksa berhenti beraktivitas demi menyaksikan gesture
gadis itu meninggalkan langkah dari hadapan Akbar. Hanya jejak yang disisakannya
untuk dibawa Akbar pulang. Sungguh begitu kuatnya arus pesona gadis itu,
membuat Akbar termangu begitu lamanya.
Terngiang
memori lama yang dulu dikuburnya dalam dalam. Tembok kenangan yang begitu
tinggi dibangunnya seakan dengan begitu mudah dihancurkan ketika gadis itu
menampakkan wajah di hadapan Akbar. Akbar menghela napasnya. Tak guna menyesal
berlarut. Tidak akan merubah keadaan. Kembali dilemparkannya langkah
meninggalkan posisi sesalnya kala itu.
‘Aku harus sukses demi ibu. Sukses
demi memperbaiki masa depan. Biarlah masa mudaku rusak, jangan masa depan.’
.
Akbar
pulang agak larut saat itu karena harus mengantar Bayu. Menyiasati hari semakin
gelap ditambah penerangan malam yang memang seadanya, dia mencoba mencari jalan
tikus, kemudian terhenti di suatu gang ketika melihat sebuah mobil yang terparkir
sedikit menghalangi jalan. Perlahan Akbar mencoba melewati badan mobil itu
tanpa menyentuh body mobil sedikitpun dan kemudian...
KAPPOWW!!!
Tongkat
bisbol menyapanya saat berhasil melepaskan tubuh dari mobil itu. Mencoba
menyatukan seluruh tenaganya, dilihatnya siapa jahanam yang memukul tubuhnya.
Seorang monster bertubuh besar dan... pria yang dihajarnya bersama Bayu tadi
terlihat sumringah dengan perban yang melingkari kepalanya. Juga..
KAPPOOWW!!
Belum
sempat ia berpikir, Akbar harus menerima lagi pukulan telak kedua kalinya dari
tongkat bisbol yang sama. Tak mau kalah, ditendangnya kaki kiri si monster sehingga
hilang keseimbangan dan ikut mencium aspal. Namun, Akbar kalah gesit. Tak
sempat dijauhkannya tongkat bisbol itu, sehingga si monster kembali meraih
tongkat itu kembali dan Akbar menerima pukulan telak. Untuk posisi yang sama.
Bagian abdomen kirinya.
Kini
dia tersungkur, setelah terguling kasar tubuhnya terhantam balok bisbol yang
mulus mendarat di perutnya. Mencium bau aspal yang panas begitu menyenangkan
kala itu juga saat persekon kemudian lingkar leher kaosnya tertarik dan
tubuhnya terangkat ke udara.
BOOOMMMM!!!
Kali
ini pukulan atas dari tangan melayang di pipi mulusnya. Pikirannya buyar,
melayang-layang terpaksa ia berpikir ketika tubuh tak bertenaganya kembali
jatuh untuk kesekian kalinya. Dalam hati ia meneriakkan nama ibunya, meminta
maaf sebanyak-banyakannya dengan doa di setiap sisip napasnya yang mulai satu
per satu.
Tak
banyak lagi waktu tersisa, untuk bernapas pun ia tak sanggup lagi. Sebelum
tangan besar monster yang ada tepat dihadapannya kembali menarik bajunya,
kepala Akbar terasa berat dan tubuhnya terhuyung kembali menyatu dengan aspal.
Angin bertiup sebentar dan kembang semerbak tercium detik itu juga. Semoga
arwahnya di terima di sisi yang maha kuasa.
Di
situ dia rupanya. Tertidur dengan bahagia menikmati alam Tuhannya seakan tidak
punya kesibukan lain. Begitu tenang istirahatnya dan tak pun seorang berani mengganggunya.
Sungguh pulas ia.
Hulooo.. Udah setahun blognya menganggur. Saya udah kelas 12 nih sekarang, lagi kejar target buat perguruan tinggi. Seminggu lalu saya denger teman pena saya kebagian rejeki tulisannya diterbitkan. Syukurlah, bisa dapat uang jajan sendiri dianya.
Basa-basinya cukup ya. Ini cerpen harusnya masuk dalam list salah satu pernerbit Januari lalu, kendala ya.. sesuatu. Tapi tak apalah, cukup saya yang bahagia membagi cerita ini.
Selamat malam
Komentar
Posting Komentar