[chapter 3] Adore You -Jungkook vers
Judul :
Adore You
Genre :
Teen-Lit, Romance
Length :
Chapter 03
Author :
saya
Perhatian! Ada adegan kasar dan kata" kurang
sopan.
FLASHBACK
Jung Mi berlari menuju kamar mandi sesaat setelah
bel pulang berbunyi. Dapat didengarnya derap langkah beberapa gadis memasuki
kamar mandi dari bilik toilet.
“Eh, bagi bedak dong,” ucap sebuah suara dari para
gadis dibalik bilik toilet Jung Mi. Sepertinya mereka sedang
bercermin.
“Nih!”
“Eh, elu tahu enggak, kabar si Jungkook datang ke sini?”
DEG
Jantung Jung Mi berdegup kencang, darahnya berdesir
dengan cepat tatkala nama itu terdengar. Ditelannya air liurnya dan mencoba
mendengarkan pembicaraan para gadis itu. Waktu di bilik toilet diperlamanya
walaupun di sudah tidak buang air kecil lagi.
DUBRUAAAK!
Pintu kamar mandi didobrak seseorang, Jung Mi
terperanjat dari kloset yang didudukinya. Entah apa yang terjadi selanjutnya,
yang pasti Jung Mi sedikit merasa takut dan memutuskan untuk keluar. Jung Mi
berdiri dan merapikan roknya, meneteng tas punggung hitamnya dan membuka pintu
bilik toilet.
Langkah pertama terhenti. Didapatinya para gadis
yang memakai badge simbol berwarna hijau yang menandakan kelas XII mengelilingi
dan mengepung langkahnya. Kepalanya tertunduk, "Permisi Kak, saya ma...
"Bangsat lu!" yeoja yang rambutnya ikal blonde
itu menjambak rambut kuncir kuda Jung Mi, lalu menjatuhkannya ke lantai.
Didudukinya pinggang Jung Mi, lantas menyuruh kedua temannya yang berbadan
besar untuk menahan lengan Jung Mi di lantau supaya tidak mengelak.
"Hajar, Dir! Eh.. elu masih junior kan? huh!"
sesorang yang lain menunjuk dan memelototi Jung Mi. Mata Jung Mi berkaca-kaca,
nafasnya tak beraturan. Tubuh dan tangannya tidak bisa digerakkan karena
ditahan oleh mereka.
"Maaf ka. Maaf! Kalau aku ada salah, maaf
kak," suara Jung Mi bergetar."Damn! Bangsat lu! Siapa suruh elu
ganjen sama Jungkook, huh? SIAPA?"
PLAKK
Satu tamparan mendarat pada pipi kirinya. Jung Mi
terkaget, pipinya terasa berdenyut hingga ke tulang-tulang. Kedua perempuan
yang tadi mencengkram lengan Jung Mi pergi. Jung Mi mengelus-elus pipinya,
dengan tangannya yang ditahan tadi.
BYUURR!
Pakaian dan setengah tubuh Jung Mi basah oleh
tumpahan air dari ember yang dijatuhkan kedua perempuan tadi. Dengan posisi
yang masih berada di bawah seniornya itu, Jung Mi menangis sesegukan, tangannya
mengucek-ucek wajahnya."Biar sadar diri, lu! Ingat ya, Jungkook itu punya
gue!" kembali perempuan yang masih menduduki pinggang Jung Mi itu melotot.
Ditariknya kerah kemeja Jung Mi, membuat Jung Mi terpaksa menahan tubuhnya
sekuat tenaga untuk bangkit.
"Ampun Kak Dir, aku enggak ada hubungan
apa-apa sama Jungkook," ucapnya dengan suara parau, matanya tak berani
menatap seseorang yang dipanggil 'Dir' lantaran takut. Tapi tamparan kedua
kembali dilayangkan pada pipi kanannya.
"Sopan dong lu jadi junior! Kalo
bicara tuh lihat orangnya, bukan ke bawah. Indira itu senior elu, bukan
seangkatan sama penjaja diri kayak elu!" ucap seseorang yang lain.
"Elu emang butuh pelajaran ya, biar bisa sopan
di depan senior!"
PLAAKK!!!
Tamparan sekaligus bogem didaratkan kembali pada
pipi kirinya. Pelupuk mata kitinya mulai berdenyut dan perlahan darah segar
mengakir keluar dari sudut bibirnya. Ini yang paling sakit. Jung Mi tak punya
tenaga lagi untuk melawan, dipasrahkannya tubuhnya diangkat medua perempuan
yang tadi menggenggam erat pergelangannya, dan saat ini menjatuhkan kasar Jung
Mi hingga lututnya menyentuh pecahan keramik di kamar mandi dan mengeluarkan
darah segar memancar keluar dari lutut kanannya.
Para perempuan ber rok pendek itu tertawa puas.
Apalagi Indira, yang puas menampar Jung Mi tadi. Jung Mi pucat, darah semakin
banyak keluar namun ia tidak terlihat kesakitan. Indira berjongkok, menyamakan
kedudukannya lalu menjambak ke belakang rambut lurus basah Jung Mi. Ikatan
rambutnya tadi sudah terlepas.
"Jadi kesimpulannya apa sayang?" bisiknya
lembut nan mematikan pada telinga Jung Mi yang masih diikuti suara tawa
teman-temannya.
"KESIMPULANNYA APA BANGSAT!" kali ini ia
berteriak dan melepaskan kasar jambakannya.
Mereka pun meninggalkan Jung Mi sendiri di sana. Jung
Mi pucat, masih pilek, dan matanya sembap. Dikeluarkannya sesuatu dari tasnya
yang dapat dijadikan lap tubuhnya. Disekanya setiap sisi pada leher dan tangan
menggunakan saputangannya yang sudah dikembalikan Jungkook tadi dan
menggunakan kemeja cowok itu sebagai pengganti handuk untuk mengeringakan
rambut basahnya.
Luka di lutut kanan dibiarkannya walapun dia harus
berjalan terpincang-pincang, dia tak mau berlama-lama di kamar mandi.
_________________________
Tertunduk ia pada salah satu bangku penonton di
lapangan voli indoor. Sudah 10 menit Jung Mi termenung, menatap kosong pada
lapangan, hingga didengarnya suara langkah orang berlari kearahnya, dari pintu
masuk.
"JUNG MI-YA! Ka.. ka.. kamu?" Sehun
menatap tak percaya pada Jung Mi. Perlahan, jemarinya menyentuh lembuh wajah
lebam Jung Mi.
Jung Mi tersenyum tipis hingga persekon kemudian,
tangisnya tak terbendung. Sehun menuntun Jung Mi menangis di pelukannya. Jung
Mi tak menolak, ditenggelamkannya wajahnya pada pelukan pinggang Sehun yang
masih berdiri.
"Ada apa, Dek?" Sehun memberanikan diri
bertanya. Jung Mi tertegun. Sudah lama Sehun tak memangilnya 'Dek. Dek, adalah
panggilan khususnya bagi Jung Mi, ketika masih berpacaran dan merupakan
panggilan sayang juga.
"Enggak apa-apa," perlahan melepaskan
pelukannya dari Sehun.
"Enggak apa-apa gimana? Lutut kamu berdarah,
Dek!" Sehun duduk di sebelah Jung Mi sambil mengeluarkan botol tehnya.
"Tahan ya, biar aku kasih pertolongan pertama." Sehun membasuh luka
pada lututnya, Jung Mi mengerutkan dahi dan menggigit bibit bawah bawahnya. Sehun
terkekeh pelan melihat ekspresi Jung Mi.
"Sehun-ssi, wae?" pertanyaan Jung Mi tak
digubrisnya. Bak seorang perawat, ia telaten merawat lutut Jung Mi. Dikeluarkannya
saputangan abu-abunya, dan dilipatnya seukuran perban. Dilepaskan dasinya untuk
melapkan darah dan air dari lutut Jung Mi, lalu dibalutnya luka itu menggunakan
saputangannya, mengikatnya perlahan untuk menghindari masuknya bakteri pada
luka Jung Mi.
"Finish!" Ia tersenyum lantas duduk di
sebelah Jung Mi.
Jung Mi menundukan kepalanya.Tak ingin Sehun
bertanya apa yang terjadi pada wajahnya. Diam menyelimuti keduanya. Jung Mi
lebih memilih bersandar di bangkunya hingga persekon ia merasa wajahnya
disentuh, menimbulkan aliran listrik menjalari sekujur tubuhnya. Ternyata kedua
jemari Sehun meraih wajahnya, mata keduanya bertemu, seakan melepas rindu, dan
"Kamu enggak perlu malu tentang wajah kamu
yang lebam luka. Aku enggak akan nanya macam-macam. Yang pasti aku mau kamu
tahu kalau aku ada di sini, aku bisa dengar apa yang kamu ceritakan,"
jelasnya dengan pengertian. Namun Jung Mi tak mau terlarut. Dengan lembut
disingkirkannya jemari cowok itu dan tersenyum mengisyaratkan tak ada hal
serius yang terjadi padanya.
"Oh iya! Udah jam segini. Luhan-ssi mana
ya?" Sehun terlihat mencari seseorang hingga...
"DOOR!!" kejut Luhan
dari belakang.
"Woy! Bisul arab lu! Copot nih paru-paru!
"Jantung, oon!" Keduanya tertawa akrab.
Hal ini membuat Jung Mi merasa menjadi orang asing.
"Oh ya! Dek ini Luhan. Luhan, ini Jung Mi,"
keduanya bersalaman.
"Kita mau ke kantin, mau ikut?" ajak Luhan
ramah.
"Enggak deh. Kayaknya jemputan aku udah
nunggu."
Jung Mi bangkit dari bangkunya. "Aku duluan ya. Gomawo
Sehun-ssi..," ucapnya terbata kemudian berjalan agak pincang.
"Aku gendong ya,"
"Gak usah!" jawabnya singkat.
"Maksud aku, gak usah repot-repot,"
lantas Jung Mi langsung meninggalkan keduanya. Ingin sekali rasanya ia tidur di
kasur tidur empuknya dan melupakan segala kejadian sialnya hari itu. Hingga ia
berjalan menuju pintu masuk, dan melihat Woo Hyun yang berlari, meraih, dan Jung
Mi menangis dipelukannya.
next part...
tunggu aja
Komentar
Posting Komentar